BANYUWANGI TERBANYAK MENGISI KALENDER WISATA INDONESIA

Azwar Anas: Rp 546 Miliar Devisa dari Homestay Wisman

Tahun 2018 ini, Banyuwangi tercatat sebagai daerah yang paling banyak mengisi kalender wisata Indonesia. Setidaknya ada 77 acara festival dan karnaval yang mengundang wisatawan. Dari semuanya, ada tiga acara yang dipilih Kementerian Pariwisata untuk masuk menjadi 100 acara unggulan, di Calender of Event Wonderful Indonesia (CoE WI) 2018. Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya, mengatakan Banyuwangi jadi kota kecil yang paling banyak diambil acaranya menjadi 100 acara terbaik pariwisata Indonesia. Dari 77 festivalnya di 2018, ada tiga acara menjadi bagian dari program 100 CoE WI 2018.
“Event yang masuk CoWI 2018 itu kriterianya dilihat dari cultural values, comercial values, konsistensi, jadi udah dilakukan berapa taun, dan reportnya bagaimana. Juga direct dan indirect impact,” tuturnya di Kementerian Pariwisata, belum lama ini.
Tiga festival di Banyuwangi yang masuk ke CoE WI 2018 meliputi Banyuwangi Ethno Carnival (BEC), yang digelar 10 November 2018. Salah satu acara terbesar Banyuwangi ini masuk dalam TOP 10 Nasional Events (EoE WI) disejajarkan dengan acara ternama kelas internasional dari Indonesia. Banyuwangi Ethno Carnival atau Karnaval Etnik Banyuwangi atau sering disebut BEC adalah sebuah even karnaval busana yang setiap tahun digelar dalam rangkaian Banyuwangi Festival di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Rute yang dilalui adalah dari Taman Blambangan hingga Kantor Bupati Banyuwangi melewati jalan-jalan protokol Kota Banyuwangi sepanjang 2,2 kilometer.
Even kedua, adalah International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI), digelar 23-26 September 2018. Tur balap sepeda ini diselenggarakan tiap tahun sejak 2012. ITdBI diikuti para pembalap dari puluhan negara asing antara lain : Perancis, Belanda, Kolombia, Kanada, Jepang, Singapura, Thailand, Iran, Spanyol, Filipina, Malaysia, Filipina, Australia, Korea, Tiongkok, Thailand, Selandia Baru, Rusia, Taiwan, Uni Emirat Arab, dan Uzbekistan.
Tahun ini, ITdBI berlangsung selama 3 hari dari etape pertama sampai etape keempat. ITdBI menempuh total rute sejauh 555 kilometer.
Even ketiga, adalah Gandrung Sewu, 20 Oktober 2018. Acara tarian tradisional yang menyertakan 1000 penari secara masal ini masuk TOP 100 Nasional Events (CoE WI) 2018. Berlokasi di pinggir pantai, ribuan penari tersebut menarikan tari gandrung, dan ditonton ratusan ribu orang wisatawan.
Selama gelaran tersebut terdapat beberapa sesi atau segmen. Dalam satu sesi, penari akan menarikan ragam gending, tarian tradisional Banyuwangi. Beberapa diantaranya ialah gending kembang pepe, seblang lukento, sekar jenang, sondreng-sondreng dan kembang dirmo.
Untuk mengembangkan desa-desa wisata di Banyuwangi, Azwar Anas mulai mengajak homestay-homestay untuk membuat pengembangan wisata untuk tamunya. Menurut Bupati Banyuwangi tersebut, berkembangnya desa wisata di Banyuwangi sangat terpengaruh dari atraksi wisata yang mereka tawarkan ke wisatawan. “Dari experience yang ditawarkan itulah wisatawan mulai bertahan di desa-desa wisata, dan homestay mulai tumbuh,” ujarnya setelah melaunching Top 77 Calendar of Event Banyuwangi Festival, di Kementerian Pariwisata, Kamis (1/2/2018). Ia pun tidak menampik kini wisatawan mancanegara ( wisman) yang ke Banyuwangi mulai berdatangan ke desa wisata dan menginap di homestay-homestay milik warga. ” Wisman dari Eropa utamanya, lalu Australia untuk destinasi pantai, dan Jepang. Homestay kami sekarang mulai dihuni oleh mereka (wisman), karena menyajikan experience,” ungkapnya.
Ia mencontohkan pengalaman tersebut seperti di Korea yang mulai menyajikan pengalaman melihat dan membuat makanan tradisional Korea, kimchi.
“Kan menarik tu bagi wisman. Kalau di Banyuwangi seperti coba membuat kopi, gula kelapa aren. Ini yang sekarang akan kita jual. Menurut saya akan lebih sustain (bertahan lama), dibanding hanya ‘jual kasur’,” kata Azwar Anas.
Untuk saat ini baru ada beberapa desa wisata yang sudah menerapkan hal tersebut. Menurutnya, usaha tersebut terbukti meningkatkan lama kunjungan dari wisman di sana.
“Experience itu sudah mulai diterapkan oleh beberapa desa wisata. Semisal paket trekking, jalan ke sawah, makan di sawah, liat pemandangan alam, sampai finish-nya di Ijen. Dari sana, desa mulai tumbuh, homestay-homestay mulai tumbuh, pake rumah Osing,” kata Anas.
Kini sudah ada delapan desa yang mapan, dan siap didorong untuk membuat experience khusus untuk tamu-tamunya. Mulai dari Desa Kemiren, Desa Banjar, Desa Licin, Desa Kali Purwo, Desa Kali Baru dan yang lainnya.
Ia mengatakan sudah mulai mengajak hotel untuk ikut serta menyajikan experience bagi tamunya. Terutama hotel yang ingin diresmikan tahun 2018 ini. “Ayo, sekarang mulai menjual experience, tidak bisa ke depan hotel hanya jual kamar, kerena hotel lain pasti sudah banyak yang jual kamar,” tutupnya. Sebelumnya, Azwar Anas mengatakan kunjungan wisman di Banyuwangi, tahun 2017, meningkat menjadi 91 ribu wisman, dengan pendapatan devisa mencapai Rp 546 miliar.

Jurlan Em Saho’as-DKI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *