KH BAHARUDDIN AS TERPILIH AKLAMASI DALAM MUSDA VII MUI MAKASSAR

Anregurutta Dr KH Baharuddin As, MA terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Makasasar priode 2018-2022 dalam Musyawarah daerah (Musda) VII MUI yang digelar di Aula Rujab Walikota, Sabtu (27/2/2018).

Kiai Baharuddin pada priode 2014-2018 lalu sudah menjabat ketua pergantian antar waktu (PAW) sepeninggal Dr. KH Mustamin Arsyad yang berpulang ke Rahmatullah beberapa tahun silam.

Penetapan secara aklamasi itu dilakukan oleh tim formatur yang berjumlah sembilan orang, kendati seluruh peserta juga sudah menunjuk secara aklamasi saat memberikan tanggapan atas laporan pertanggung jawaban pengurus, namun pimpinan sidang tetap menyerahkan kepada tim formatur sesuai amanah AD/ART.

Tim formatur berjumlah sembilan orang masing-masing K.H.Muhiddin Quraisy, unsur dewan penasehat, Dr. KH Muh. Thalib, KH Mustari Arsyad, Dr. KH Baharuddin AS, H. Masykur Yusuf, KH Jabbar Sanusi, H. Misbahuddin, M.Sg. dan HM. Yunus HJ.

Ketua Umum MUI Sulsel Dr. KH Sanusi Baco, LC dalam arahannya mengingatkan, siapa pun yang terpilih hendaknya mampu meningkatkan peran MUI di tengah masyarakat makin sangat dibutuhkan terutama di dalam merespon kemerosotan moral yang melanda negeri ini, terutama di dalam menyelematkan generasi muda dari kehancuran sebagai akibat dari kemajuan ilmu pengetahun dan teknologi dewasa ini.

Menurut Rois Syuriyah NU Sulsel, jika saat ini tengah diributkan persoalan pergaulan bebas yang disebut LGBT maka MUI tidak perlu berlama-lama memutuskan, karena alasannya sudah jelas dalam Al Qur’an yang disebut perzinahan.

“Orang yang suka sesama jenisnya atau prilaku yang menyimpan semuanya sudah masuk dalam perbuatan zina, jadi tak perlu lagi mencari-cari hukumnya karena sudah jelas diuraikan dalam kitab suci Al Qur’an,” tandasnya.

Walikota Makassar Danny Pomanto sesaat sebelum membuka resmi Musda VII MUI mengatakan, pelecehan seksual yang disebut LGBT dan terjadi dimana-mana sudah sangat parah kondisinya, sehingga dihimbau kepada seluruh orang tua agar betul-betul menjaga dan mengawasi pergaulan anaknya.

“85 persen pelecehan seksual terjadi pada anak laki-laki, bukan pada anak perempuan, sehingga pemahaman yang dulunya menganggap anak laki-laki itu tidak perlu dijaga maka sekarang ini justru semuanya harus dijaga baik-baik,” pintanya penuh harap.

Dalam kaitan itu pula lanjut Danny Pomanto, kedepan dia akan mencantumkan salah satu program unggulannya adalah “jagai anakta”. Anak-anak kita harus dijaga baik-baik.

Penghancuran generasi muda itu sudah sangat mencemaskan karena mereka sudah mempersiapkan sejak anak-anak kita masih kecil lewat relaksasi otak dan sensasi-sensasi yang tidak disadari melalui teknologi medik.

“Saya sangat cemas melihat anak-anak kita di kota-kota besar, termasuk di Makassar ini. Saya harus curhat kepada para ulama, kepada MUI yang selama ini selalu mendampingi saya dan tempat untuk bertanya,” katanya. Menurut Danny, sekarang ini di Thailand anak-anak kecil diculik tapi tidak dibunuh, mereka dimasukkan dalam gabus diberi es lalu diplaster untuk diperjualbelikan organ tubuhnya. Jadi menjaga anak ini harus menjadi gerakan bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *