LOMBOK Pulau Seribu Masjid Jadi Pulau Seribu Tenda

DCIM\100MEDIA


Kubah-kubah berukuran besar dengan menara tinggi menjadi pemandangan awal bagi siapapun yang hendak mendarat di pulau ini. Dari ketinggian, begitu tampak kubah dan menara berdampingan dengan gugusan perbukitan yang masih tampak hijau.

Begitu menjejakan kaki dan mulai menyusuri setiap titik di pulau ini, jangan kaget jika berjumpa masjid-masjid dengan ukuran besar dan ornamen yang begitu menyedot perhatian mata.

Lombok namanya. Pulau Seribu Masjid julukannya. Pulau yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) ini sedang naik daun dalam beberapa tahun terakhir lewat gebrakan pariwisata halal. Citra Lombok sebagai Pulau Seribu Masjid pun ikut menjulang ke seantero negeri, bahkan hingga ke ranah internasional.

Namun, pulau yang dijuluki seribu masjid itu kini rata dengan tanah. Gempa berkekuatan 7 SR yang terjadi Sabtu lalu itu memporak-porandakan seluruh bangunan rumah, masjid, mall dan gedung-gedung pemerintahan dan perbankan. Kota yang dijuluki Pulau Seribu masjid berubah jadi pulau seribu tendah, karena ribuan tenda kini berdiri disana sebagai tempat berteduh sementara sebahagian besar warga Lombok dan kota sekitarnya yang tertimpa bencana dahsyat itu.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB) mencatat, jumlah korban gempa Lombok, Nusa Tenggara Barat, sudah mencapai lebih dari 500 orang yang tewas.

“Korban meninggal diduga akibat tertimbun longsor dan bangunan roboh. Hingga saat ini, kata Sutopo, gempa susulan tetap terjadi di Nusa Tenggara Barat.

Sutopo menuturkan, intensitas gempa susulan masih tergolong kecil. Ia memperkirakan gempa susulan masih akan terjadi hingga 4 minggu ke depan. Hingga kini sudah mencapai 600 gempa susulan.

Untuk sementara jumlah sekolah rusak akibat gempa Lombok mencapai 553, menyebabkan siswa belajar di tenda. Sutopo mengatakan, korban meninggal dunia tersebar di Kabupaten Lombok Utara 339 orang, Kabupaten Lombok Barat 30 orang, Kabupaten Lombok Timur 10 orang, Kota Mataram 9 orang, Kabupaten Lombok Tengah 2 orang, Kota Lombok 2 orang, dan Kota Denpasar 2 orang. Sementara itu, korban luka-luka tercatat 1.353 orang. Dengan rincian 783 orang luka berat dan 570 orang luka ringan. Korban luka-luka paling banyak terdapat di Lombok Utara sebanyak 640 orang. Pengungsi tercatat 387.067 orang tersebar di ribuan titik.

Terkait dengan julukan Pulau Seribu masjid, Dosen Fakultas Seni Rupa Desain, Institut Teknologi Nasional Bandung Taufan Hidjaz merupakan putra Sasak yang memiliki perhatian mendalam perihal catatan sejarah masjid di Lombok. Meski telah bermukim di Bandung, Jawa Barat sejak 70-an, Taufan tak lantas melupakan tanah kelahirannya. Segudang penelitian hingga pendalaman ke lapangan rutin ia lakukan menguliti perjalanan masjid yang sangat erat dengan karakter masyarakat Lombok.

Taufan menjelaskan, penyebutan Pulau Seribu Masjid ini bermula dari kunjungan kerja Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama Effendi Zarkasih pada 1970. Kala itu, Effendi meresmikan Masjid Jami Cakranegara. Saat meresmikan, Effendi terkesan sekali dengan banyaknya masjid di Lombok.

“Kalau boleh saya beri julukan, (Lombok) negeri atau Pulau Seribu Masjid dan sampai sekarang dikenal itu,” ujar Taufan di Islamic Center NTB, Mataram, NTB.

Taufan menyampaikan, masjid merupakan representasi budaya Sasak di Lombok. Dalam catatannya, terdapat 3.767 mesjid besar dan 5.184 mesjid kecil di 518 desa di Lombok. Artinya, setiap desa di Lombok memiliki lebih dari satu masjid.

“Lombok dijuluki Pulau Seribu Mesjid. Julukan ini bermakna di Lombok sangat banyak masjid sehingga menjadi karakter khas yang membedakan dengan daerah lain,” lanjut Taufan.

Taufan menyanyikan, masjid merupakan artefak penting yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kolektif masyarakat di Lombok dalam semua aspek. Kata Taufan, masjid menjadi tanda bagi keberadaan kolektif masyarakat Sasak, dari tingkatan dusun, desa dan kota sebagai ummat muslim.

“Tanpa masjid maka kehidupan kolektif seperti kehilangan pusat orientasi ruang dan tidak semua kegiatan seolah tidak punya rujukan dan makna apapun,” ucap Taufan.

Representasi budaya masyarakat Sasak akan masjid sesuai dengan petunjuk Nabi Muhammad SAW. Taufan berharap, masjid menjadi sumber pengembangan aspek-aspek kehidupan syari lain seperti ekonomi, wisata, pendidikan yang mensejahterakan kehidupan kolektif masyarakat Sasak.

Sejumlah kisah berhasil dihimpun media ini sekitar sesaat sebelum gempa terjadi.

“Saya sempat jatuh begitu gempa pertama, karena kita acaranya di halaman rumah kemudian sempat jatuh, kemudian pada keluar semua, kemudian terjadi gempa susulan yang menyebabkan ada yang jatuh ada yang roboh,” ujar Minardi menuturkan pengalaman berjibaku dengan gempa kepada BBC News Indonesia.

Minardi mengungkapkan ini untuk pertama kalinya dia merasakan gempa besar salama dirinya tinggal di desa yang berlokasi di kaki Gunung Rinjani tersebut di ketinggian 1.150 meter dari permukaan laut.

Bahkan, setelah gempa besar, rententan gempa susulan terus terjadi.

“Sangat besar sekali, bak penampungan air sampai kaya ombak, meluber ke luar, kemudian menara masjid juga bergoyang-goyang, kemudian semua pada lari ke jalan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Minardi menuturkan, satu warga negara Malaysia bernama Siti Nurmaida yang termasuk dalam sekelompok wisatawan dari Malaysia sebanyak 18 orang yang baru saja turun dari Gunung Rinjani meninggal lantaran tertimpa bangunan yang roboh.

“Dia baru turun dari Gunung Rinjani, kemudian pada saat istirahat di rumah penduduk, rumah penduduk itu rubuh kemudian menimpa,” ujar Minardi.

Sementara itu, delapan warga negara Malaysia lain masih dirawat. Jumlah pendaki yang berada di atas gunung pada saat terjadi gempa sebanyak 826 orang, baik wisatawan asing maupun dari dalam negeri. Hak atas foto BNPB Image caption Kawasan pendakian Gunung Rinjani juga terdampak gempa.

Informasi dari Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) Resort Sembalun menyebut jumlah pendaki yang naik gunung sejak Jumat (27/07) sebanyak 788 orang.

Sedangkan yang terdata di Resort Senaru, Lombok Utara, hanya 38 orang, termasuk pemandu wisata gunung.

Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) menutup sementara jalur pendakian Gunung Rinjani karena diperkirakan terjadi longsor di atas pegunungan.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyebut dampak terparah dari gempa terdapat di Kabupaten Lombok Timur.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nusa Tenggara Barat, Agung Pramuja menyebut pihaknya terus menyusur daerah terisolir.

“Sampai saat ini sedang terus dilakukan menyisir daerah-daerah yang terisolir. Tim kami dari BPBD kabupaten dan TNI/Polri sedang bergerak di lapangan,” kata dia.

Di sisi lain, Presiden Joko Widodo langsung memimpin rapat kabinet terbatas (ratas) membahas penanganan gempa.

Presiden memerintahkan jajarannya, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Menteri Sosial, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dan Panglima TNI untuk segera membantu masyarakat yang terkena musibah.

Waspada gempa susulan

Seperti diberitakan, gempa bumi tektonik mengguncang Lombok, Bali dan Sumbawa Minggu (29/07) dengan kekuatan 7 SR. Gempa yang terjadi sekitar pukul 05.47 WIB tersebut berlokasi 47 kilometer timur laut ibu kota Lombok, Mataram, pada kedalaman 24 kilometer. Gempa itu turut dirasakan oleh warga di Pulau Bali dan Pulau Sumbawa.

Deputi Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Muhammad Sadly mengungkapkan gempa dangkal itu terjadi akibat aktivitas sesar naik busur belakang Flores, atau biasa disebut Flores back arc thrust.

“Gempa ini juga dipicu oleh deformasi batuan dengan mekanisme gerakan naik, atau thrust fault,” jelasnya.

Setelah gempa Minggu pagi, gempa susulan terus terjadi di Lombok. Hingga pukul 14.00 WIB, telah terjadi 133 kali gempa susulan dengan magnitudo terbesar 5,7 SR.

Sadly menghimbau masyarakat di Nusa Tenggara Barat dan Bali untuk waspada gempa susulan, meskipun gempa yang terjadi di masa mendatang tidak akan sebesar gempa sebelumnya.

“Memang tampaknya ini belum stabil karena mungkin terkait kondisi tanah dan batuan di sana,” ujar Sadly.

“Jadi kita berharap bahwa itu pelepasan energi dan memang gempa susulan banyak dipengaruhi kondisi setempat,” ujarnya.

Lantas, apa yang menyebabkan gempa sering mengguncang wilayah itu?

Sadly menuturkan gempa tektonik terjadi akibat aktivitas subduksi, hasil interaksi lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia. Aktivitas sesar Flores pula sempat menyebabkan gempa masif berkekuatan 7,8 SR di lepas pantai Flores, pada akhir tahun 1992. Gempa ini menyebabkan tsunami setinggi 36 meter yang menghancurkan rumah di pesisir pantai Flores, menewaskan setidaknya 2.100 jiwa, sementara 500 orang hilang, 447 luka-luka dan 5.000 orang mengungsi.

Terkait gempa yang sering terjadi di daerahnya, Minardi menuturkan perlunya antisipasi dari pemerintah. Apalagi, saat ini Lombok sudah menjadi destinasi tujuan wisata, baik wisatawan mancanegara maupun domestik.

“Apalagi saat ini sedang banyak yang mendaki, terutama dari mancanegara,” ujarnya.

Merujuk data Dinas Pariwisata NTB, jumlah wisatawan NTB tercatat sebanyak 3,5 juta orang pada tahun lalu, 1,5 juta di antaranya merupakan wisatawan mancanegara.*

AJE-DKI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *