Nur Wijaya Kusuma MAHASISWA TEKNIK UGM BERUSIA 15 TAHUN SD-SMA Hanya Ditempuh 9 Tahun

Nur Wijaya Kusuma, mahasiswa termuda di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta

Nur Wijaya Kusuma tercatat sebagai mahasiswa termuda di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada tahun ajaran 2018/2019 lalu, usianya waktu itu baru menginjak 15 tahun. Dengan usia yang seharusnya baru mengecap pendidikan tingkat SMP boleh jadi dia juga tercatat sebagai mahasiswa termuda di Indonesia. Dia diterima lewat jalur undangan. Lantas, apa kunci remaja kelahiran 18 Mei 2003 ini bisa diterima kuliah di UGM saat usianya masih begitu muda ?
“Ya dulu kan waktu awal sekolah, PUUD, di PAUD Cita Nanda (Surakarta) itu kan kayak diceritain kalau (lulus sekolah) muda itu enak, apa-apa bisa cepat,” kata Wijaya di sela-sela Pelatihan Pembelajar Sukses Mahasiswa Baru (PPSMB) di Lapangan Pancasila UGM.
Berbekal arahan itu, Wijaya memutuskan mengambil percepatan pendidikan dari jenjang SD sampai SMA. Sewaktu SD dia mengambil program akselerasi lima tahun, SMP akselerasi dua tahun, dan SMA mengambil program sistem kredit semester (SKS) dua tahun.
“SD saya di SD 16 Surakarta, SMP-nya di SMP 9 Surakarta dua tahun, SMA-nya di SMA 3 ikutnya program SKS empat semester. Karena kemarin (waktu SMA program) aksel sudah ditutup digantikan program empat semester. Ya akhirnya masuk UGM ini (berumur) 15 tahun,” jelasnya.
Wijaya adalah anak tunggal pasangan Sapta Kusuma Brata dan Uswatun Khasanah, warga Surakarta, Jawa Tengah. Kedua orangtuanya adalah seorang guru. Sementara ayahnya juga pernah mengenyam pendidikan di UGM Yogyakarta jurusan Teknik Nuklir.
Seusai lulus SMA, awalnya Wijaya kebingungan mau melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi mana. Namun kala itu, ayahnya menyarankan dia kuliah di UGM. Karena ayahnya yakin dan tahu betul dengan kualitas universitas di Bulaksumur tersebut.
Setelahnya, Wijaya membulatkan tekat mengambil jalur SNMPTN dengan pilihan Departemen Teknik Elektro di Fakultas Teknik UGM. Ternyata lewat jalur tersebut dia dinyatakan diterima, dan kini dia menjadi mahasiswa baru termuda di UGM Yogyakarta.
“Kenapa ngambil Teknik Elektro karena kalau ngambil listrik bayangannya untuk zaman sekarang apa-apa butuh listrik kan. Jadi mungkin cari kerja, cari apapun itu lebih simpel, lebih mudah dapatnya,” ungkap Wijaya.
Meski tercatat sebagai mahasiswa baru termuda, Wijaya tak mau bersantai-santai dalam menempuh pendidikan di UGM. Dia menarget bisa menyelesaikan pendidiknya di Departemen Teknik Elektro tiga tahun, atau saat usianya baru menginjak 18 tahun.
“Insyaallah pengennya tiga tahun sudah lulus (dari Departemen Teknik Elektro),” tutur mahasiswa yang suka bermain game ini.
Adapun seusai lulus dari Fakultas Teknik UGM, Wijaya masih ingin melanjutkan studinya lagi. Keputusannya tersebut didukung penuh kedua orangtuanya. Karena kedua orangtuanya tak ingin Wijaya bekerja saat usianya masih muda.
Namun, menjadi mahasiswa di usia bukan tanpa rintangan. Hal itu diakui Wijaya. Terkadang dia merasa minder saat berkenalan dengan teman seangkatanya di Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik UGM.
“Iya minder,” ucap Wijaya singkat.
Sementara motivasinya mengikuti kelas akselerasi bermula saat dia berada di bangku PAUD. Kala itu, ada seorang yang memberitahunya bahwa menempuh pendidikan cepat itu menyenangkan. Dia kemudian kelas akselerasi yang didukung penuh oleh orang tua.
Wijaya mengaku senang dan bangga bisa kuliah di UGM di usianya yang masih muda. Terlebih ayahnya adalah alumnus di kampus yang sama, karena pernah mengenyam pendidikan di Departemen Teknik Nuklir UGM.
Meski menjadi mahasiswa termuda, mahasiswa yang berdomisili di Jalan Padjajaran Timur II nomor 24 Solo ini bertekad kembali menyelesaikan pendidikan dalam waktu cepat. Dia mematok target lulus S1 di usia 18 tahun.
“Targetnya lulus 3 tahun dan setelahnya masih belum kepikiran akan kerja di mana. Kalau orang tua menyarankan lanjut S2 biar tidak terlalu muda saat kerja,” tutupnya.

Jurlan Em Saho’as-DKI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *