Potensi Wisata Pulau Karampuang REMBULAN MENGUNDANG BERCEBUR DALAM PESONA KARANG

Karampuang, sebuah pulau di dekat Mamuju, Sulawesi Barat yang  menyimpan keindahan alam dan kehidupan yang belum banyak diketahui.  Pulau sederhana dengan alam nan memesona dan kehidupan yang indah.


Karampuang, sebuah pulau di dekat Mamuju, Sulawesi Barat yang  menyimpan keindahan alam dan kehidupan yang belum banyak diketahui.  Pulau sederhana dengan alam nan memesona dan kehidupan yang indah.

Mengunjungi Karampuang merupakan salah satu pesona wisata tersendiri. Pulau seluas 6,21 km persegi ini selain menyimpan keindahan alam yang masih perawan dan memiliki aneka mitos.Pulau Karampuang merupakan sebuah pulau yang terletak di Desa Karampuang, Kecamatan Mamuju, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat. Dengan menaiki kapal sebagai satu-satunya sarana transportasi menuju Pulau Karampuang dari pelabuhan Mamuju, pengunjung sudah bisa menikmati keindahan pulau yang disebut juga sebagai pulau buaya oleh masyarakat setempat  karena bentuknya yang mirip dengan reptil tersebut ketika dilihat dari atas. Walaupun kapal laut menjadi satu satunya akses untuk menuju pulau Karampuang, namun aktivitas dari kota Mamuju menuju Pulau Karampuang maupun sebaliknya tidak pernah sepi. Hanya dengan menempuh waktu sekitar dua puluh menit, pengunjung akan langsung tiba di Pulau yang namanya mempunyai arti rembulan dalam Bahasa Indonesia.

Luas wilayah dari Pulau Karampuang adalah sebesar 6,37 km2 dengan jumlah penduduk yang mencapai sekitar 3000-an jiwa. Pengunjung Pulau Karampuang akang disambut dengan dermaga kayu dari Pelabuhan Ujung Bulo yang menjorok ke laut sepanjang kurang lebih lima ratus meter. Dari dermaga yang juga merupakan landmark dari pulau ini, pemandangan bawah laut Pulau Karampuang sudah bisa terlihat dengan jelas. Keanekaragam terumbu karang mulai dari soft coral hingga hard coral menggoda semua mata yang melihatnya untuk menceburkan diri ke dalam air demi melihat kumpulan terumbu karang tersebut dari jarak dekat.

Pulau Karampuang sendiri memang memiliki potensi wisata yang cukup besar yang dapat dieksplor dari keindahan bawah lautnya. Bagi para pecinta snorkeling ataupun diving, Karampuang merupakan destinasi yang wajib dikunjungi ketika berkunjung ke wilayah Mamuju. Selain keanekaragam terumbu karangnya, pemandangan bawah laut Pulau Karampuang juga diramaikan oleh kehadiran berberap jenis ikan laut seperti ikan badut dan ikan kakak tua berdahi bulat atau juga dikenal dengan sebutan ikan bumphead.

Untuk menikmati keindahan bawah laut dari Pulau Karampuang, tidaklah melulu harus dengan diving. Pengunjung sudah bisa menikmatinya dengan ber-snorkelling di dekat dermaga Ujung Bulo dan beberapa tempat lainnya di sekitar Pulau Karampuang. Hanya dengan kedalaman sekitar dua meter hingga empat, keindahan bawah laut dari pulau yang dulunya disebut sebagai Pulau Liutang ini sudah bisa dinikmati oleh para pecinta bawah laut. Di Pulau Karampuang sendiri terdapat satu spot menyelam dimana terdapat wall site yang terdiri dari kumpulan terumbu karang yang menyerupai dinding besar yang membuat pengalaman menyelam di pulaU ini berbeda dengan tempat tempat lainnya. Keragaman biota laut yang masih terjaga hingga saat ini jelas merupakan potensi wisata dari Pulau Karampuang yang bisa dieksplorasi lebih jauh lagi.

Ada versi lain dalam soal nama Karampuang. Konon pulau itu menjadi tempat persembunyian para raja dari kejaran tentara Belanda, di masa kolonialisme. Persembunyian dinamakan karampuang sebab kata itu disusun dari Kara artinya karang, batu, atau pulau; dan Puang artinya bangsawan, ningrat, raja (maradika). Dari gabungan dua kata itu membentuk sebuah arti pulau para raja atau pulau para bangsawan. Bahasa itu berasal dari bahasa suku di Sulawesi seperti Bugis, Makassar, dan Toraja.

Persoalan yang mendesak di pulau ini adalah jaringan listrik dan air bersih. Di pulau yang terdiri dari 7 dusun itu belum ada homestay, losmen, bahkan hotel. Bila wisatawan ingin berlama di Karampuang ia bisa tinggal di rumah-rumah penduduk. Meski kita bisa tinggal di rumah penduduk namun jangan ditanya soal ketersediaan listrik dan air  bersih yang memadai. Di pulau yang dihuni oleh 3.327 jiwa ini listrik yang disuplai dari PLN belum ada. Masyarakat masih mengandalkan suplai listrik dari mesin berbahan solar yang mereka kelola sendiri. Masing-masing dusun memiliki mesin pembangkit listrik secara swadaya.

Saat ini masyarakat menggantungkan air tawar dari sumber-sumber mata air yang ada. Salah satu sumber mata air itu adalah mata air 3 rasa. Sumber mata air ini tak sekadar dijadikan air kehidupan oleh masyarakat namun juga menjadi tempat wisata andalan.

Seperti nama Karampuang cerita mata air 3 Rasa itu juga banyak versi. Ada mitos yang menceritakan ada leluhur orang Karampuang melihat ada mata air yang jernih. Oleh leluhur mata air itu dipisahkan menjadi 3 bagian. Pemisahan 3 bagian itu menyebabkan rasanya juga menjadi tiga, tawar, payau, dan asin.

Bagi masyarakat sekitar pada masa itu, keberadaan sumber air 3 rasa bisa jadi hanya sebatas itu namun suatu ketika ada seorang yang datang dari Makassar mengambil air dari tempat itu dan anehnya setelah menggunakan air itu ia mendapat jodoh. Cerita yang demikian tersebar ke mana-mana sehingga mata air 3 Rasa itu juga dinamakan Sumur Jodoh.

Cerita yang demikian rupanya juga diyakini oleh penduduk setempat. Di saat bulan purnama, gadis-gadis Karampuang menumbuk tepung untuk dijadikan bedak. Bedak itu ditaburkan di muka setelah sebelumnya dibasuh dengan air dari sumur jodoh.

Para gadis melakukan demikian agar parasnya cantik, muncul aura dari dalam tubuh, jalannya gemulai, dan mempunyai sifat lembut seperti air. Mujarabnya air dipercayai tidak hanya sebatas itu konon katanya air itu bisa digunakan sebagai pengobatan alternatif.
Kalau ada orang yang tak percaya dengan khasiat Sumur Jodoh itu boleh-boleh saja. Namun menurut pengakuan salah seorang penduduk, jangan mengumpat atau berkata jorok di tempat itu. Pernah ada seorang yang mengumpat di sekitar sumur itu. Tak lama kemudian ia kesurupan.

AJE-DKI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *