QURAISH SHIHAB WAKIL INDONESIA PADA PENANDATANGANAN DEKLARASI ABU DHABI

Quraish Shihab berjabat tengan dengan Paus Fransiskus

AL-QUR’AN MENGAJARKAN PENTINGNYA\PERSAUDARAAN
SESAMA MANUSIA
Tauziah Quraish Shihab Pada Penandatanganan Deklarasi Abu Dhabi

Prof. Dr. H.M. Quraish Shihab, ulama dan pakar tafsir Al-Qur’an menjadi wakil satu-satunya tokoh agama dari Indonesia, bahkan Asia Tenggara yang hadir dalam penandatanganan Deklarasi Abu Dhabi sekaligus dipercayakan member tauziah, Senin pekan pertama Pebruari lalu.
Deklarasi itu disebut sebagai “Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Berdampingan’’. Deklarasi itu ditandatangani Imam Besar Al-Azhar, Ahmed al-Tayeb dan pemimpin tertinggi Vatikan Paus Fransiskus.
Deklarasi ini merupakan hasil atas acara Pertemuan Persaudaraan Manusia yang digelar di Uni Emirat Arab. Acara ini dihadiri oleh 400 pemimpin keagamaan. Quraish hadir dalam kapasitas sebagai anggota Majelis Hukama’ Al-Islam/ Moslem Elders Councils (Majelis Orang-orang Bijak Muslim), sebuah organisasi yang bertujuan untuk menghindarkan kekerasan-dalam bentuk apapun, serta mengedepankan dialog sambil menegaskan perbedaan pendapat harus dihormati walaupun tidak menyetujuinya.
Dalam kesempatan bersejarah itu, Quraish memberikan ceramah yang berjudul Persaudaraan Manusia: Tantangan dan Kesempatan. Mengawali ceramahnya, Quraish mengutip pernyataan Imam Ali bin Thalib kepada Gubernur Mesir pada masanya yaitu manusia terbagi dalam dua kelompok; saudara denganmu dalam agama/ seagama dan setara denganmu dalam kemanusiaan.
Quraish mengemukakan, ikatan kebersamaan dalam agama tidak menafikan ikatan persaudaraan antar manusia. “Agama dan kemanusiaan berdampingan untuk menciptakan kehidupan yang damai dan harmoni.”
Dia mengatakan, ungkapan ini sejalan dengan pesan-pesan Alquran yang menegaskan pentingnya menjaga persaudaraan, bukan saja dengan sesama Muslim, melainkan juga sesama manusia, walau berbeda keyakinan.
Menurut Quraish, tantangan yang dihadapi dalam mewujudkan persudaraan manusia adalah peradaban modern yang terlalu mementingkan aspek material dan mesin, disertai dengan sifat rakus/tamak, egoisme, dan mengesampingkan manusia dan kemanusiaan.
Namun, Quraish optimis kesempatan untuk mewujudkan persaudaraan manusia, masih terbuka luas. Bukan saja karena harus optimis dalam segala hal, atau karena naluri kebaikan ada dalam diri setiap insan, melainkan karena tanda-tanda ke arah itu terbentang jelas.
“Antara lain, hubungan yang baik antara tokoh-tokoh agama, saling tukar pikiran antarsesama, dengan gagasan-gagasan yang mencerahkan untuk kebaikan umat manusia dan kedamaian dunia,” tutur dia.
Kehadiran Paus Fransiskus di Jazirah Arab merupakan kunjungan bersejarah dalam rangka mempromosikan kadamaian. Paus Fransiskus berkesempatan melayani komunitas Katholik di Uni Emirat Arab. Dia menyerukan agar umatnya tetap lemah lembut dalam mengikuti Tuhan. Ini pertama kalinya Paus datang ke Jazirah Arab.
Satu hari setelah meminta pemimpin Kristen dan Muslim untuk berkerja sama dalam mempromosikan kedamaian dan menolak peperangan, Paus Fransiskus mengadakan misa terbesar di Arab. Misa ini menandakan tonggak sejarah baru toleransi di Uni Emirat Arab.
Hymne Helleluyah yang bergema di sepenjuru kota Abu Dhabi menjadi bukti toleransi Uni Emirat Arab terhadap agama lain selain Islam. Sementara di negara-negara Teluk Arab lainnya sangat sulit bagi masyarakat agama non-Islam menyelenggarakan ibadah publik.
“Kami harus katakan ini acara yang sangat besar dari acara yang tidak pernah kami perkirakan,” kata Sumitha Pintu, perempuan asal India yang sudah tinggal hampir 20 tahun Uni Emirat Arab.
Penyelenggara mengatakan pemeluk agama Katholik dari 100 negara menghadiri misa ini. Termasuk empat ribu Muslim dari federasi Muslim. Bukti keragaman 9 juta penduduk Uni Emirat Arab.
Surat kabar Amerika Serikat (AS) New York Times melaporkan Uni Emirat Arab memiliki Kementerian Toleransi. Kementerian ini bukti Uni Emirat Arab sudah lama berupaya mempromosikan diri mereka sebagai pusat kosmopolitan dan perdagangan global tapi juga menerapkan hukum agama yang inklusif.
Pinto menghadiri misa ini bersama suami dan empat orang anaknya. Anak bungsu Pinto memegang sebuah poster foto Paus dengan tulisan ‘Selamat Datang Paus Fransiskus, Jadikan Saya Saluran Kedamaian Anda’.
Sorak-sorai meledak di dalam dan luar Stadion Zayed Sports City ketika Paus Fransiskus tiba dengan mobil bak terbuka. Teriakan ‘Viva il Papa’ dan ‘We love you’ bergema di mana-mana. Diperkirakan ada 135 ribu orang yang menghadiri misa ini.
Masyarakat Katholik Uni Emirat Arab sesuatu yang anomali di kawasan Timur Tengah. Mereka sangat banyak, beragam dan terus berkembang ketika banyak masyarakat Katholik di Timur Tengah melarikan diri dari serangan-serangan ISIS dan kelompok teror lainnya.
Gereja Katholik memperkirakan ada sebanyak 1 juta pemeluk Katholik di Uni Emirat Arab. Hampir semuanya adalah pendatang yang datang untuk bekerja di negara yang kaya minyak tersebut. Posisi mereka ada di berbagai sektor mulai dari sektor kerah putih seperti keuangan sampai kerah biru seperti konstruksi.
Kebanyakan dari mereka adalah orang Filipina dan India. Banyak yang meninggalkan keluarga mereka di negara asal untuk datang dan bekerja di Uni Emirat Arab. Kelompok-kelompok hak asasi manusia mengkritik tempat atau kondisi kerja yang disediakan pemerintah Uni Emirat Arab kepada mereka.
Paus Fransiskus menyampaikan khotbahnya dengan bahasa Italia. Diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan Inggris di layar raksasa. Dalam khotbahnya Paus meminta umat Katholik di Uni Emirat Arab untuk menahan segala penderitaan yang mereka tanggung.
“Tentunya tidak mudah bagi Anda untuk tinggal jauh dari rumah, merindukan orang yang Anda cintai, dan mungkin merasa tidak ada kepastian di masa depan, tapi Tuhan setia dan tidak akan meninggalkan umatnya,” kata Paus Fransiskus.
Paus Fransiskus juga memberitahu jemaatnya yang banyak di antara mereka miskin dan pekerja kasar untuk tidak perlu membangun karya ‘sangat besar’ untuk membuktikan keimanan mereka. Sebuah pesan yang menekankan kelemahlembutan di negara yang memiliki banyak gedung pencakar langit dan terkenal dengan kemewahannya.
“Yesus, tidak meminta kita untuk membangun karya besar atau menarik perhatian diri kita sendiri dengan gestur yang luar biasa, dia meminta kita hanya membuat satu karya seni, yang mungkin untuk semua orang: hidup kita sendiri,” kata Paus Fransiskus.
Para jemaat gembira dan mengapresiasi kata-kata Paus Fransiskus. Kedatangan Paus Franciskus selama tiga hari di Uni Emirat Arab merupakan sebuah oasis bagi mereka.
“Ia hampir bersifat keilahian, dia memiliki kharisma yang istimewa,” kata Raphael Muntenkurian, seorang mantan seminaris yang tinggal selama 30 tahun di Uni Emirat Arab.
Muntenkurian mengatakan, semua orang sangat terpesona dengan upaya yang dilakukan Paus Fransiskus untuk terus mempromosikan perdamaian dan toleransi. Kesederhanaan dan keredahan hatinya, kata Muntenkurian, selalu layak untuk dipuji.
Untuk menekankan keragamaan jemaat Katholik doa misa dibacakan dalam berbagai bahasa dan menekankan berbagai kesulitan hidup. Dalam doa bahasa India Konkani doa misa meminta agar pejabat publik ‘diterangi’ dan mempromosikan martabat semua orang.
Sementara itu doa dalam bahasa Tagalog Filipina meminta agar pengorbanan dan kerja para pekerja dan imigran di Uni Emirat Arab dapat menopang keluarga mereka. Doa dalam bahasa Prancis meminta mereka yang melakukan kekerasan untuk mengubah cara mereka berperilaku dan menghentikan perang, mengatasi kebencian dan membantu semua orang untuk menjalin keadilan dan membangun kedamaian.
Misa diakhiri pada tengah hari dan Paus pun menuju bandara Abu Dhabi untuk pulang. Paus Fransiskus juga meminta pemimpin-pemimpin agama untuk bekerja sama menentang ‘kekejaman yang menyedihkan’ dalam perang. Ia juga meminta pemimpin agama untuk menolak ‘logika pasukan bersenjata, mempersenjatai perbatasan dan meningkatkan tembok perbatasan’.
“Tidak ada alternatif : kita membangun masa depan bersama-sama atau tidak ada masa depan sama sekali,” kata Paus Fransiskus.
Kata-kata itu ia sampaikan di depan putra mahkota Uni Emirat Arab, ratusan imam, mufti, rabi dan swami yang berkumpul di Abu Dhabi. Di saat ketika Uni Emirat Arab membantu koalisi Arab Saudi dalam perang Yaman. Perang yang membuat Yaman sebagai negara termiskin di Arab ke ambang kelaparan.
“Tuhan menyertai mereka yang mencari perdamaian,” tambah Paus Fransiskus.
Penguasa Uni Emirat Arab memperhiasi lampu-lampu jalan dengan bendera Uni Emirat Arab dan Vatikan untuk kedatangan Paus Fransiskus. Mereka sudah lama memberikan kebebasan kepada agama-agama minoritas termasuk Katolik.
Pasalnya pemeluk Katholik dari India, Filipina dan Amerika Selatan, telah membantu mendukung pertumbuhan Uni Emirat Arab sebagai pekerja konstruksi, pembantu rumah tangga dan karyawan industri minyak. Sementara umat Hindu, dan minoritas agama lainnya dapat mempraktikkan keyakinan mereka.
Sementara itu Imam Besar Masjid sekaligus Universitas Al-Azhar di Mesir, Syekh Ahmed al-Tayeb, meminta umat Islam di Timur Tengah agar merangkul komunitas Kristen setempat. Hal tersebut ia sampaikan saat berpidato dalam sebuah acara yang disiarkan melalui televisi di Ibu Kota Uni Emirat Arab, Abu Dhabi, Senin lalu.
Acara tersebut juga turut dihadiri oleh Paus Fransiskus. “Terus rangkul saudara Anda warga Kristen di manapun berada, karena mereka adalah mitra kita di negara ini,” kata Imam Besar Al-Azhar dalam pidatonya.
Kemudian ia menyapa kepada umat Kristiani. “Anda bagian dari negara ini. Anda warga negara bukan minoritas. Anda adalah warga negara yang memiliki hak dan tanggung jawab yang penuh,” ujar Syekh Ahmed al-Tayeb.
Syekh Tayeb juga meminta umat Islam di negara Barat untuk berbaur dengan negara yang menjadi tuan rumah mereka dan menghormati hukum setempat.
Mesir mengandalkan ulama-ulama Al Azhar dalam pertempurannya memerangi kalangan penganut garis keras Islam. Al-Azhar menjadi tuan rumah bagi Paus Fransiskus pada 2017 untuk memperbaiki hubungan antara umat Islam dan umat Katolik.

AJE-DKI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *